Profil Sekretaris Jendral Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM

“Seseorang yang berani adalah seseorang yang bersedia melakukan sesuatu yang penting bagi kecemerlangan hidupnya. Meskipun dia belum berpengalaman. Meskipun dia tidak memiliki uang untuk itu. Meskipun banyak orang meragukan kesempatan keberhasilannya. Meskipun telah banyak orang gagal dalam upaya yang sama. Meskipun sama sekali tidak ada jaminan. Meskipun sebetulnya dia sangat ketakutan. Dan… meskipun lebih mungkin baginya untuk gagal. (Mario Teguh)”

Hri ini kita membutuhkan sosok pemimpin yang punya sebuah keberanian untuk melangkahkan kaki berbeda dari yang orang lain pernah jejakkan. Langkah taktis dan strategis menjadi salah satu kunci sukses keberanian tersebut. Saya mencoba menjadikan DEMA menemiliki karakter tersebut. DEMA membutuhkan satu reformasi total, mulai dari system kaderasi, pengawalan isu, seperti layaknya gerakan mahasiswa yang telah bertarnsformasi lepas dari romantisme masa lalu menjadi sebuah gerakan yang berbasis kajian dan riset, modal sebagai seorang intelektual.

Indonesia pernah terjajah dan hingga kini bangsa ini belum merdeka. Bersama 12 pengurus harian DEMA yang lainnya saya akan mencoba mencari pemecahan permasalahan tersebut. Bangsa ini kini telah mengalami krisis percaya diri, tak percaya bahwa dirinya bisa berdaulat atas apa yang ia miliki. Bangsa ini telah diketahui menjadi sebuah symbol nyata bahwa memang ada “ayam yang mati di lumbung padi”. Generasi muda harus mampu menguak dan mencari tahu apa yang salah dengan kandang tersebut hingga akhirnya ayam tersebut bisa tumbuh subur makmur.

Kedaulatan menjadi isu yang akan terus dikawal. Kedaulatan sudah selayaknya harus tercipta bukan lagi menjadi sebuah wacana mengingat bangsa kita pernah suskes di bidang pangan sebelum akhirnya terjatuh dan terseok demi memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. PAngan menjadi isu stretegis nan seksi yang kini menjadi rebutan setelah energy. Pangan akan terus bertarung dengan kondisi zaman. Pangan adalah sector yang tak akan pernah mati, genrasi muda pertanian pun juga dituntut untuk tidak pernah mati. Perjuangan pangan diruntut sejakan zaman kejayaan pangan RI hingga kemudian amblek menjadi negara pengimpor. Dari sanalah kita menemukan adanya sebuah intervensi atas pangan dinegara kita, hingga menjadikan Negara ini menjadi Negara yang tak berdaulat atas pangannya, menjadikan rakyat kelaparan di lumbung padi.

Agraria atau pertanahan akan sangat berpengaruh dalam menunjang kedaulatan tersebut. UUPA akan terus diperjuangkan untuk menjadi sebuah undang-undang yang menjadi paying bagi hokum yang bergerak di bidang agraria lainnya. Tanpa adanya penegakan UUPA mustahilrakyat bisa berdaulat atas tanahnya, rakyat terus akan menjadi koraban. Tidak ditegakkannya UUPA bukan hanya menelan korban secara materi, namun konflik horizontal yang muncul juga banyak terjadi dikarenakan tidak ditegakkannya UUPA hingga memakan banyak korban jiwa. DEMA akan berusaha mengawalperkembangan isu tersebut dan menjadi pioneer dalam menyuarakan aspirasi, menagih hutang DPR yang tealh dicantumkan dalam TAP MPR IX tahun 200 untuk segera melakukan peninjauan kembali seluruh UU yang berkaitan dengan agaria dan menjadikan UUPA sebgai paying hukumnya.

Tahun ini pula DEMA menerima kado indah karena mendapat kesempatan untuk mengawal pemilihan rector baru UGM dan pemilihan dekan faperta UGM. Sudah jenuh rasnya kita mendengar permasalahan di bidang akademik, pelayanan fakultas yang hingga kini menjadi sebuah permasalahan emnurun dan tak terselesaikan. Dalam momentum pemilihan dekan ini DEMA akan mengambil sebuah kesempatan besar untuk mengawal pemilihan pemimpin fakultas baru dengan harapan terpilih pemimpin fakultas baru yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sudah mengakar kuat di Faperta. Mari kita kawal bersama, wujudkan bangsa yang mampu memakmurkan rakytatnya, bukan hanya memakmurkan pemimpinnya.

HIDUP RAKYAT INDONESIA, HIDUP PERTANIAN INDONESIA, HIDUP MAHASISWA INDONESIA, JAYALAH SELALU !!!!

Categories: Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Reforma Agraria : Hutang DPR RI kepada Rakyat Indonesia

Reforma Agraria seharusnya bukan lagi menjadi sebuah wacana, melainkan menjadi sebuah kewajiban untuk anggota DPR RI. Menyambung tulisan saya yang sebelumnya, sudah sangat jelas dan gamblang Ketetapan MPR No. IX/2001 telah memerintahkan kepada anggota DPR untuk segera mengatur, menata kembali, mengganti semua undang-undang yang menyimpang dari Undsang-Undang Pokok Agraria.

Tumpang tindih undang-undang telah banyak menimbulkan penurunan kualitas lingkungan, ketimpangan struktur penguasaan dan pemilikan, penggunaan dan pemanfaatannya telah menimbulkan berbagai macam konflik. Mesuji dan Bima sudah menjadi korban atas tidak disegerakannya reforma agraria, reformasi dan peninjauan kembali seluruh undang-undang yang berkaitan dengan masalah agraria.

Pada masa pemerintahan orde baru yang dipimpin Soeharto telah banyak diciptakan UU sektoral yang mengatur komersialisasi sumber-sumber agraria. UU sektoral tersebut secara substansial “jiwanya” telah bertentangan dengan UUPA. Jadi secara bersamaan direkonstruksikan bangunan hukum baru yang berfungsi sebagai “buldoser” eksploitasi sumber-sumber agraria, sementara UUPA tetap dibiarkan hidup tanpa eksistensi dan kekuatan. UU sektoral ters antara lain UU Kehutanan No 41/1991, UU Pokok Pertambangan No. 11/1967, UU Pertambangan Minyak dan Gas Bumi No. 8/1971, UU Transmigrasi No. 15/1997, UU Pemerintahan Desa No. 5/1975,  UU Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 23/1997, UU Rumah Susun No. 16/1995, dan masih banyak UU lainnya.

Kewajiban untuk melakukan peninjauan kembali terhadap UU Sektoral yang berhubungan erat dengan UUPA harus segera dilakukan. Liberalisme dan Kapitalisme sudah banyak tercium gelagatnya untuk menidurkan UUPA. Reformasi Agraria telah menjadi hutang DPR RI kepada Rakyat Indonesia, mari kini kita tagih hutang itu.  Hidup Mahasiswa Indonesia.

Sumber :

Simposium Nasional Reforma Agraria, Otonimi Daerah, Kedaulatan Pangan dan Ekonomi Bangsa. Fakultas Pertanian UGM 26-27 Maret 2012.

Jurnal Anlisis Sosial. Juni Thamrin. Gagasan Menuju Pada Pengolaan Sumber Daya Agraria yang Partisipatif dan Berkelanjutan.

Categories: Opini | Tinggalkan Komentar

Deregulasi, Privatisasi, dan Liberalisasi Sektor Strategis

Indonesia memang luar biasa. Kekayaan alam bangsa ini begitu melimpah ruah. Dijajah 360 tahun tidak membuat kekayaan negara ini berkurang sedikit pun. Tanah yang subur dan laut yang kaya terbentang dari sabang sampai merauke. Tercatat Indonesia memiliki 1.922.570 km² wilayah darat dan 3.257.483 km² wilayah lautan. Modal ini tentunya lebih dari cukup untuk emnjadikan negara ini menjadi negara yang benar-benar berdaulat di atas tanahnya sendiri.

Semua kekayaan tersebut menjadi tidak berarti dikarenakan pengelolaan sumber daya alam yang carut marut. Mulai dai sektor migas, tambang, pertanian dan kelautan. Dari semua sektor diatas tidak ada satu sektor pun yang tidak mengalami cekaman. Pengelolaan SDA akhirnya dilakukan oleh pihak asing, rakyat tidak mendapat bagian dan bangsa ini menjadi jauh dari kata berdaulat.

Tahun 1996 krisis moneter regional melonjakkan jumlah hutang negara pada negara kreditor. Indonesia mengalami gagal bayar, dan sebagai akibatnya harus masuk ruang perawatan IMF sebagai pesakitan. IMF dan Bank Dunia kemudian memaksa pemerintah untuk menerima berbagai formula kebijakan ekonomi agar terbebas dari krisis. Salah satunya menerapkan SAPs (Structural Adjusment Program). SAPs mencakup 3 landasan pokok; deregulasi, privatisasi, dan liberalisasi. Melalui ketiga pilar tersebut penguasaan terhadap seluruh sektor strategis tidak lagi berada pada rakyat, melainkan beralih pada mekanisme pasar. Pemilik modal besar akan menguasai sumber daya. Mekanisme in sudah menyerupai hukum rimba, siapa yang menang dia yang berkuasa.

UUD 1945 sudah kehilangan taringnya, pasal 33 yang menyatakan “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” telah ditindih oleh peraturan turunan hasil deregulasi sejak era kepemimpinan Habibie di tahun 1998-1999 yang kemudian menyerahkan pengelolaan sumber daya kepada kaum kapitalis.

Reforma agraria yang menjadi simbol semngat bersama dalam memberantas privatisasi dan monopoli lahan tak juga segera dilaksanakan. DPR nampaknya “sengaja” menunda reformasi undang-undang di “lahan basah” ini. Padahal telah sangat jelas dan nyata bahwa Ketetapan MPR No. IX/2001 tentang pembaruan agraria dam pengelolaan sumber daya alam telah mengamanatkan kepada DPR RI untuk segera mengatur lebih lanjut pembaruan agraria dan SDA serta mencabut, mengubah, dan mengganti undang-undang dan peraturan pelaksanaannya yang tidak sejalan dengan ketetapan ini. Isi klausul tegas, peninjauan kembali semua peraturan perundangan yang menyimpang dari UUD 1945 serta Undang-undang Pokok Agraria.

Disini sangat tercium tidak ada nya kemauan DPR untuk memperbaiki sektor-sektor “basah” ini. Kapitalisme telah merajalela di negri ini. Rakyat miskin menjadi korban buasnya kapitalisme, dan bagsa ini kembali menjadi bangsa yang terjajah. Sudah saatnya kita mencari kemerdekaan itu negara ini. Semangat Tanpa Batas.

 

Suber :

Murdjiati. 2011. Ketahanan Pangan dan Gizi yang Berkedaulatan.UGM

Simposium Reforma Agraria, Otonomi Daerah,  Kedaulatan Pangan, dan Ekonomi Bangsa. Fakultas Pertanian UGM . 26-27 Maret 2012.

Categories: Opini | Tags: , | Tinggalkan Komentar

mengenang Pak Koes . . . . . .

Mengikuti sarasehan mengenang Prof. Koesnadi Hardjasoemantri rasanya menohok kita semua. Beliau menjadi salah satu orang hebat di negeri ini dengan mengajarkan kepada kita tentang gaya kepemimpinan non elitis dengan keteladanannya. Beliau memberikan pelajaran yang tidak bisa diajarkan di kelas-kelas namun hanya bisa diajarkan melalui sebuah keteladanan. “Inilah sosok pemimpin yang sudah selesai dengan maslah pribadinya” kata Anies Baswedan. Pak anis juga menggambarkan beliau dengan kalimat indah lain :

“Pada saat republik harus bertempur, dia (Pak Koes) jadi tentara pelajar. Ketika republik perlu anak-anak terdidik, dia jadi guru di pelosok negeri. Tatkala republik perlu pemuda peduli rakyat, dia kirimkan ribuan muridnya ke desa-desa terpencil. Sewaktu republik perlu regenerasi, dia institusikan kampus sebagai wahana penggodokannya.”

Beliau menjadi salah satu sosok pemimpin yang hadir di tengah krisis kepemimpinan bangsa ini. Beliau adalah sosok pemimpin yang berani memberikan kebebasan kepada mahasiswa di tengah pressure ketat orde baru terhadap gerakan mahasiswa saat itu. Pak Koes membuktikan keberaniannya dengan mengantarkan mahasiswa ugm melakukan aksi ke DPRD meskipun saat itu diberlakukan NKK/BKK. Di zaman beliau pula lah, Dewan Mahasiswa tingkat Universitas lahir dan hal tersebut menjadi sebuah awal gerakan baru mahasiswa sebelum tergulingnya Soeharto di tahun 1998 .  Selain itu, diceritakan rektor UGM masa lalu ini merupakan sosok yang sederhana, dimana beliau ikut aktif dan terjun langsusng dalam berbagai kegiatan mahasiswa tanpa rasa segan sedikitpun, bahkan beliau pernah berjalan kaki sendirian hanya untuk membeli kartu ucapan idul fitri hasil karya UKM seni rupa (Bulaksumur waktu itu). Beliau juga sosk pemimpin yang mengesampingkan “jaga image” dengan berani langsung melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan pemimpin kampus saat ini seperti mengurusi kebersihan kampus, berkunjung ke tempat KKN secara langsung, mengamati langsung setiap detil kegiatan mahasiswanya, dll. Hal tersebut tentunya menginspirasi banyak mahasiswa di eranya untuk terus punya semangat untuk berjuang dan berkarya.

Rasa-rasanya semua warga Gadjah Mada harus melakukan refleksi penuh terhadap sosok Pak Koes. Nilai-nilai kerakyatan yang dulu dijunjung tinggi Pak Koes nampaknya sudah mulai luntur dari jiwa gadjah mada masa kini. Gaya kepemimpinan elitis sudah merasuk di jiwa pemimpin gadjah mada baik itu dosen maupun mahasiswa.Sudah selayaknya kita berbenah, mengembalikan hakikat UGM sebagai kampus kerakyatan. Bukan saatnya lagi kita menjadi manusia latah, yang tergoda dengan hanya sebatas title standar International seperti WCRU tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas yang sebenarnya. Biarlah UGM tetap menjadi kampus Ndeso asalkan tidak “Ndesoni”.

Semoga sarasehan tadi menjadi sebuah momentum untuk memilih rektor baru UGM yang jauh lebih baik dari Bapak Koesnadi Hardjasoemantri. Selamat jalan Pak Koes, semoga semua karyamu selalu menginspirasi bangsa ini. 

Categories: Opini | Tinggalkan Komentar

kembali berjuang

Diskusi dengan seorang teman kemarin seakan mengingatkan saya bahwa masih banyak hal besar yang perlu dibenahi. Awalnya saya berfikir bahwa tahun ini akan adem ayem dengan segala program yang telah direncanakan, namun yang namanya ttantangan pasti hadir di setiap masa, berbeda-beda, sesuai dengan kapasitas orang yang menerima tantangan tersebut. Semakin besar ia, semakin besar pula tantangan yang akan ia hadapi.

Seakan seperti bangun tidur, setelah diskusi semalam saya sudah seharusnya mulai menggerakkan otot kembali. Kali ini setidaknya ada 6 tantangan yang harus diselesaikan dalam jangka waktu satu tahun. Pemilihan rektor, pemilihan dekan, key in, nilai lama keluar, sby dan merger jurusan. Bukan tugas yang ringan memang, semua harus diselesaikan dengan strategi yang tepat dan kerja keras.

So, mari menghela nafas panjang, menyiapkan semangat dan pikiran untuk menyelesaikan seluruh tantangan tersebut. Salam Semangat Tanpa Batas. Maju terus DEMA FAPERTA UGM.

Categories: Aktivitas | Tinggalkan Komentar

the fighter

Memiliki gaya kepemimpinan populis dengan karakter yang disukai banyak orang memang menyenangkan. Itulah yang pernah coba terfikir oleh saya dalam beberapa kesempatan perenungan mencari sosok pemimpin sejati. Banyak contoh yang bisa diambil, yang paling mendekati adalah kepemimpinan SBY masa kini. Gaya seperti ini banyak dipakai dewasa ini, bisa mungkin karena kebutuhan bangsa atau banyak orang yang terlalu takut untuk jatuh.

Pohon yang lebih tinggi memang lebih gampang untuk roboh, bahakan kadang tanpa harus ada angin puting beliung pun pohon tersebut bisa roboh. Sekilas, terlihat bahwa penyebab robohnya pohon tersebut adalah sang angin, namun seperti  yang dikatakan dalam novel “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin“, ungkapan tersebut sangat tepat, karena penyebab robohnya suatu pohoon adalah kesalahan arah tumbuh, sehingga pohon tidak seimbang dan sangatlah mudah untuk dirobohkan. Begitu pula sebuah kepemimpinan, semakin tinggi kepemimpinan yang dipegang, jika salah strategi dalam mempin akan sangat mudah dihancurkan. Bukan karena serangan yang datang begitu dahsyat, namun lebih sering dikarenakan strategi kepemimpinan yang salah.

Saya adalah salah satu orang yang menganut faham “suka nggak suka, asalkan tetap pada rel yang benar, ayo tetap jalan“. Tak perlu takut untuk tidak disukai orang lain, karena belum tentu apa yang orang lain suka itulah yang kita butuhkan. Sama halnya seperti saat kita sedang sakit. Obat yang diberikan memang pahit dan kita pasti tidak menyukainya, namun itulah yang kita butuhkan.

Jadilah tipe petarung, yang tidak hanya bergerak berdasarkan banyaknya orang yang menyukai apa yang kita lakukan, tapi berdasarkan ilmu yang benar dan memiliki dasar yang kuat dan jelas. Namun semua itu bukan berarti kita tidak menerima kritik dan saran orang lain, tapi tidak pula semua kritik dan sran kita terima. Be creative, be constructive, be a leader.

Categories: Opini | Tinggalkan Komentar

Mimpi tak pernah ditenggelamkan kondisi

Terlahir di kawasan pedesaan memang membuat orang cenderung memilih jalan kehidupan yang sederhana, tanpa mimpi yang muluk-muluk. Itu juga yang membuat banyak keluarga saya memilih jadi PNS, dan rata rata tetangga saya memilih untuk menjadi OB di kapal pesiar. Lalu apakah sang pemimpi akan menghentikan langkahnya ketika menghadapi kondisi yang seperti itu ??

Pada cerita nlaskar pelangi, bahkan diceritakan Andrea Hirata lahir di daerah belitong, daerah terpencil di lepas pantai timur sumatera. Atau Iwan Setyawan penulis bukui 9 Summer 10 Autums, ia lahir di daerah terpencil di malang dalam lingkungan keluarga miskin. Masih banyak contoh lain dari sang pemimpi sejati, yaitu mereka-mereka yang tak mampu bendung oleh apapun untuk merealisasikan mimpi-mimpinya.

Di SMA saya dulu, kondisinya sama seperti orang-orang di desa saya. Sedikit sekali siswa yang berani untuk bermimpi, sedikit pula guru-guru yang mau memotivasi murid-muridnya untuk bermimpi. Dalam kondisi seperti ini siapa yang pa dikoreksi habis-habisan ?? Guru ? Orang Tua ? Murid itu sendiri ? atau bahkan bangsa ini, yang kata Soekarno adalah bangsa kuli.

Lingkungan ibarat enzim yang mampu mengakatalisis pribadai menjadi pribadai yang jauh lebih baik, namun bukankah substrat yang diubah menjadi produk adalah pribadi itu sendiri ??

Satu satunya syarat mutlak untuk menjadi seorang pemimpi tangguh adalah semangat dan etos kerja luar biasa, yang tak terbendung oleh situasi, kondisi, dan keterbatasan apapun. Semangat tidak hanya dimunculkan dari dalam diri, namun semangat tersebut haruslah mampu dialirkan dari keberadaan orang lain, dari kepedulian terhadap lingkungan, dan kemauan untuk membawa perubahan. Denagn begitu Mimpi tak akan pernah tenggelam oleh kondisi.

Categories: Motivasi | Tags: | Tinggalkan Komentar

Korupsi dimana-mana

Korupsi telah menjalar merasuki setiap sisi kehidupan kita, baik itu yang terasa secara nyata ataupun bahkan yang tidak kita sadari. Pembuatan KTP atau KK di kecamatan misalnya, walaupun pemerintah sudah menetapkan pembuatan KK dan KTP adalah gratis, namun tetap ada saja celah untuk korupsi. Pembuatan KK yang membutuhkan waktu 3 minggu dapat dipersingkat menjadi 1 hari dengan cara memberikan sejumlah uang pada petugas. Dan kebiasaan ini telah menjamur pada masyarakat tanpa mereka sadaribahwa itu merupakan tindak pidana KKN.

Bukan hanya pada instansi pemerintah, saya jamin di organisasi-oraganisasi mahasiswa yang meneriakkan slogan anti korupsi pun secara sadar atau tidak sadar telah banyak melakukan tidakan korupsi. Contoh nyata yang sering dilakukan adalah me mark up anggaran yang tercantum di proposal, “sengaja” menyisakan anggaran untuk makan-makan, menggunakan fasilitas organisasi untuk kepentingan pribadi, bahakan seringkalai menggunakan oknum “orang dalam” untuk mensuskseskan dana dalam menge-goalkan suatu proposalpemintaan dana. Tindakan-tindakan yang seperti itu yang ternyata telah menumbuhkan jiwa koruptor dalam diri mahasiswa.

Bukan hanya berhenti disitu, mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi pun tanpa disadari banyak ikut terlibat. Ada yang menggunakan kesempatan mengikuti perlombaan-perlombaan yang didanai (cth : PKM, Bisnis Plan dll) sebagai sarana untuk memperkaya diri, pantas saja banyak yang tidak merasakan manfaat nyata dari kegiatan tersebut. Bahkan yang lebih parah lagi, banyak mahasiswa yang memanfaatkan kesempatan beasiswa untuk mengeruk uang demi kepentingan pribadi yang sifatnya hanya berfoya-foya.

Di SD, SMP, SMA pun sama saja. Seakan kita telah dilatih menjadi koruptor dengan seakan “sengaja” membiarkan kebiasaan mencontek tumbuh dalam diri anak-anak sekolah. Bahkan sering kita dengar hanya demi sebuah kata “LULUS” banyak SMA yang melakukan kecurangan, bukan hanya dilakukan siswa tapi juga oleh para guru. Selain itu, sekolah pun kini sudah layaknya DPR yang menganggarkan ini itu yang harus dibeli oleh siswa. Kaos kaki misalnya, ternyata banyak sekolah yang mewajibkan siswanya untuk membeli kaos kaki dengan berlabel SMA/SMP tersebut, apakah ada hubungannya antara kaos kaki dengan kecerdasan, ataukah itu memang salah satu sarana untuk korupsi sekolah, layaknya nggota DPR yang menganggarkan kalender untuk masing-masing anggota.

Korupsi memang sudah menjamur dimana-mana, baik yang kita sadari ataupun tidak. Sudah selayaknya kita mengoreksi diri masing-masing, apakah kita termasuk  calon koruptor berikutnya. Semoga dosa-dosa kita diampuni oleh ALLAH SWT. Amin

Categories: Opini | Tinggalkan Komentar

Perpustakaan yang tidak direncanakan

Akhir tahun 2011 ini perpustakaan Agrie Library milik DEMA Fakultas Pertanian telah diresmikan. Deangan fasilitas yang “seadanya”, Alhamdulillah kerja keras staff saya telah membuahkan hasil.

Perpustakaan ini lahir dari ide yang muncul tiba-tiba karena kerepotan teman-teman yang mengajar di merapi untuk membawa alat tulis, selain itu buku-buku yang dimiliki oleh anak-anak merapi rata-rata sudah banyak yang hilang akibat erupsi.

Walaupun sedikit ragu di awal, dengan sedikit usaha dan doa serta bantuan dari teman-teman faperta, peprustakaan inipun berhasil didirikan. Lumayan lah, ada sekitar 200 buku yang tersedia, kebanyakan buku-buku tersebut adalah buku anak-anak yang memang kita jadikan sebagai target utama perpustakaan.

Semoga peprustakaan ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat panguk rejo.

Categories: Aktivitas | Tinggalkan Komentar

Yin & Yang : Sebuah keseimbangan hidup

Seorang pemain bola mungkin akan menjadi sangat tenar jika ia memiliki satu skill khusus yang menjadi keahliannya, dribbling misalnya. Namun pernahkah anda memperhatikan, pemain yang hanya memiliki satu skill unggulan tidak akan bertahan lama dalam kancah lapangan sepak bola, sebaliknya, banyak pemain yang punya keseimbangan dalam seluruh kemampuannya akan memiliki karir yang lebih lama sebagai atlet. Sebagai contoh Ruud Van Nisterlooy, Dimitar Berbatov, mereka memiliki postioning dan shoot tekhnik yang bagus, namun kemampuan mereka yang kurang dalm dribble bola membuat mereka dalam perjalanan karirnya hanya memiliki waktu yang singkat untuk bisa berlaga di tim bergengsi eropa. Pernahkah anda memperhatikan pemain seperti xabi alonso, xavi hernandes yang punya segalanya, mereka mampu berkarir lebih lama di tim elit eropa. Itulah arti keseimbangan yang membuat kita mampu bertahan.

Di zaman rasulullah pun begitu, ada 4 Khulafaur Rasyidin yang punya karakter dan kelebihan di bidangnya masing-masing. Abu bakar dengan kelembutan hatinya, umar dengan ketegasannya, utsman dengan sikap pemalunya, dan ali dengan kecerdasannya. Diantara semua itu pemimpin sejati ada pada Rasulullah yang punya segalanya, seimbang dalam segala hal.

Di china, keseimbangan disimbolkan dengan yin & yang. Yin & yang menggambarkan dua kehidupan hitam dan putih yang sama besarnya, yin dan yang juga menggambarkan dua energi duniawi dan dunia arwah yang saling bersinggunganmengisi kehidupan sama besarnya. Masyarakat china sangat menjunjung tinggi simbol keseimbangan tersebut. Dalam islam juga dikenal sistem keseimbangan antara kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. Manusia diwajibkan mencari bekal untuk kehidupan akhiratnya tanpa harus melupakan kewajiban untuk mensukseskan kehidupan dunianya.

Mungkin keseimbanganlah yang ingin disampaikan dalam filmn 3 idiot, dengan slogan utamanya “Chase excellent succes will follow”. Dalam film tersebut ditampilkan sosok rancho yang tidak hanya cerdas namun juga memiliki jiwa sosial yang bagus. Dengan keseimbangan yang ia miliki akhirnya Ranchoo berhasil mendapatkan predikat mahasiswa terbaik. So, sekaranglah saatnya untuk kita mengejar keseimbangan dalam hidup.

Categories: Opini | 1 Komentar

Blog pada WordPress.com. Tema: Adventure Journal oleh Contexture International.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.204 pengikut lainnya.