“Seseorang yang berani adalah seseorang yang bersedia melakukan sesuatu yang penting bagi kecemerlangan hidupnya. Meskipun dia belum berpengalaman. Meskipun dia tidak memiliki uang untuk itu. Meskipun banyak orang meragukan kesempatan keberhasilannya. Meskipun telah banyak orang gagal dalam upaya yang sama. Meskipun sama sekali tidak ada jaminan. Meskipun sebetulnya dia sangat ketakutan. Dan… meskipun lebih mungkin baginya untuk gagal. (Mario Teguh)”
Hri ini kita membutuhkan sosok pemimpin yang punya sebuah keberanian untuk melangkahkan kaki berbeda dari yang orang lain pernah jejakkan. Langkah taktis dan strategis menjadi salah satu kunci sukses keberanian tersebut. Saya mencoba menjadikan DEMA menemiliki karakter tersebut. DEMA membutuhkan satu reformasi total, mulai dari system kaderasi, pengawalan isu, seperti layaknya gerakan mahasiswa yang telah bertarnsformasi lepas dari romantisme masa lalu menjadi sebuah gerakan yang berbasis kajian dan riset, modal sebagai seorang intelektual.
Indonesia pernah terjajah dan hingga kini bangsa ini belum merdeka. Bersama 12 pengurus harian DEMA yang lainnya saya akan mencoba mencari pemecahan permasalahan tersebut. Bangsa ini kini telah mengalami krisis percaya diri, tak percaya bahwa dirinya bisa berdaulat atas apa yang ia miliki. Bangsa ini telah diketahui menjadi sebuah symbol nyata bahwa memang ada “ayam yang mati di lumbung padi”. Generasi muda harus mampu menguak dan mencari tahu apa yang salah dengan kandang tersebut hingga akhirnya ayam tersebut bisa tumbuh subur makmur.
Kedaulatan menjadi isu yang akan terus dikawal. Kedaulatan sudah selayaknya harus tercipta bukan lagi menjadi sebuah wacana mengingat bangsa kita pernah suskes di bidang pangan sebelum akhirnya terjatuh dan terseok demi memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. PAngan menjadi isu stretegis nan seksi yang kini menjadi rebutan setelah energy. Pangan akan terus bertarung dengan kondisi zaman. Pangan adalah sector yang tak akan pernah mati, genrasi muda pertanian pun juga dituntut untuk tidak pernah mati. Perjuangan pangan diruntut sejakan zaman kejayaan pangan RI hingga kemudian amblek menjadi negara pengimpor. Dari sanalah kita menemukan adanya sebuah intervensi atas pangan dinegara kita, hingga menjadikan Negara ini menjadi Negara yang tak berdaulat atas pangannya, menjadikan rakyat kelaparan di lumbung padi.
Agraria atau pertanahan akan sangat berpengaruh dalam menunjang kedaulatan tersebut. UUPA akan terus diperjuangkan untuk menjadi sebuah undang-undang yang menjadi paying bagi hokum yang bergerak di bidang agraria lainnya. Tanpa adanya penegakan UUPA mustahilrakyat bisa berdaulat atas tanahnya, rakyat terus akan menjadi koraban. Tidak ditegakkannya UUPA bukan hanya menelan korban secara materi, namun konflik horizontal yang muncul juga banyak terjadi dikarenakan tidak ditegakkannya UUPA hingga memakan banyak korban jiwa. DEMA akan berusaha mengawalperkembangan isu tersebut dan menjadi pioneer dalam menyuarakan aspirasi, menagih hutang DPR yang tealh dicantumkan dalam TAP MPR IX tahun 200 untuk segera melakukan peninjauan kembali seluruh UU yang berkaitan dengan agaria dan menjadikan UUPA sebgai paying hukumnya.
Tahun ini pula DEMA menerima kado indah karena mendapat kesempatan untuk mengawal pemilihan rector baru UGM dan pemilihan dekan faperta UGM. Sudah jenuh rasnya kita mendengar permasalahan di bidang akademik, pelayanan fakultas yang hingga kini menjadi sebuah permasalahan emnurun dan tak terselesaikan. Dalam momentum pemilihan dekan ini DEMA akan mengambil sebuah kesempatan besar untuk mengawal pemilihan pemimpin fakultas baru dengan harapan terpilih pemimpin fakultas baru yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sudah mengakar kuat di Faperta. Mari kita kawal bersama, wujudkan bangsa yang mampu memakmurkan rakytatnya, bukan hanya memakmurkan pemimpinnya.
HIDUP RAKYAT INDONESIA, HIDUP PERTANIAN INDONESIA, HIDUP MAHASISWA INDONESIA, JAYALAH SELALU !!!!




